Jumat, 29 Oktober 2010

Hormon Reproduksi Pria

Bab I Pembahasan


________________________________________

Hormon Reproduksi Pria

Hormon reproduksi pada pria addihasilkan dari sel Leydig testis maupun dari kelenjar adrenal. Tiga steroid utama yang penting untuk fungsi reproduksi pria adalah testosteron, dihidrotestosteron dan estradiol. Hampir 95% testosteron dihasilkan oleh jaringan intersisial sel Leydig dan sisanya dari kelenjar adrenal. Selain testosteron, testis juga menghasilkan dihidroepiandrosteron (DHEA) dan androstenedion. Sel-sel Leydig juga menghasilkan sedikit estradiol, estron, pregnenolon, progesterone, 17α-hidroksipregnenolon dan 17α-hidroksiprogesteron.

Dihidrotestosteron (DHT) dan estradiol tidak hanya berasal dari sekresi langsung testis, tetapi juga dari konversi di jaringan perifer dari prekusor androgen dan estrogen yang disekresi testis dan adrenal. Sekitar 40% testosteron dikonversi menjadi DHT, yang melayani sebagai mediator intrasel kerja kebanyakan androgenik testosteron. Sebagian kecil testosteron yang bersikulasi (0,2%) dikonversi menjadi esterogen dalam berbagai jaringan yang mengandung enzim aromatase. Esterogen ini mempunyai efek baik sebagai androgen atau sebagai antiandrogen. Sekitar 2% dari total testosteron di dalam darah berada dalam keadaan bebas dan mudah berdifusi. Hormon bebas ini secara biologis paling aktif dibanding total hormon yang ada dalam sirkulasi karena kemampuan secara pasif bergerak ke dalam sitosol sel target. Sebagian testosteron berikatan dengan sex hormon binding globulin dan siap berdifusi.

Sel Leydig (sel intersisial) menghasilkan testosteron (androgen utama). Meskipun hasil sekresi utama berupa testosteron, namun hormon aktifnya dalam beberapa jaringan berupa 5α-dihidrotestosteron. Sel Sertoli (tubulus seminiferus) mampu membuat androgen dan estrogen, juga menghasilkan androgen binding protein (ABP). Streroidogenesis testikuler diatur oleh LH. Spermatogenesis diatur oleh FSH dan testosteron.

A. Dehydroepiandrosteron (DHEA)

Disekresi dari sel retikularis kelenjar adrenal. Sinyal pensekresi berupa ACTH. Dehydroepiandrosteron mempunyai beberapa fungsi, yaitu dalam berbagai efek protektif, meruoakan androgen lemah, dapat dikonversi menjadi esterogen, menghambat enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6-PDH), dan juga mengatur koenzim NAD+.



Bentuk molekul DHEA

(Smith et al.,1993)

B. 17-β-estradiol

Disekresi dari folikel ovarium, korpus luteum (sel sertoli). Sinyal pensekresi berupa FSH. Estradiol berfungsi pada wanita untuk mengatur sekresi gonadotropin pada siklus ovarian dan pada pria untuk umpan balik negatif pada sintesis testosteron oleh sel Leydig.
C. Androgen

Androgen, khususnya testosteron dan dihidrotestosteron, dari sel Leydig testis dan adrenal pada kedua jenis kelamin. Namun ovarium hanya menghasilkan dalam jumlah kecil. Fungsi testosteron dan dihidrotestosteron adalah :

1. Diferensiasi sex

2. Spermatogenesis

3. Pengembangan organ seks sekunder dan struktur pelengkapnya

4. Metabolisme anabolik jaringan somatic serta pengaturan gen

5. Perilaku kejantanan

Sel sasaran dihidrotestosteron adalah sel-sel pada jaringan prostat, vesikula seminalis, genitallia eksterna dan kulit genital. Sasaran testosteron mencakup struktur Wolfi embrionik, spermatogonia, otot, tulang, ginjal dan otak.

Androgen juga merangsang replikasi sel dalam sebagian jaringan sasaran. Testosteron atau dihidrotestosteron dalam bentuk kombinasi dengan estradiol (E2), terlibat dalam proses pembelahan sel prostat yang ekstensif dan tak terkendali sehingga mengakibatkan hipertrofi prostat yang bernigna. Preparat inhibitor enzim 5-α-reduktase telah diperkenalkan dalam pengobatan ini.

Kerja Androgen

Fisiologi kerja androgen berbeda setiap tahap dalam kehidupan. Pada saat embrio, androgen merangsang kejantanan saluran urogenital pria dengan cara diferensiasi duktus Wolfi ke dalam epididimis vas deferen dan vesika seminalis. Pada neonates, sekresi androgen terjadi untuk mempengaruhi maskulinasi organ dan perkembangan fungsi otak. Pada pria prepubertas terjadi sedilit androgen dikeluarkan dari testis dan kortek adrenal secara kronis menekan pelepasan gonatropin pituitary hingga masa pubertas, pada suatu waktu gonadotropin pituitary anterior menjadi meningkat kurang sensitive terhadap inhibisi umpan balik oleh androgen yang bersikulasi. Hilangnya sensitifitas menyebabkan siklus pelepasan LH dan FSH. Merangsang produksi testosteron oleh sel Leydig dan FSH merangsang maturasi spermatogonia, diikuti kejantanan dan kesuburan.

Kadar androgen meningkatkan pertumbuhan pada pria prapubertas, menyebabkan dorongan tinggi badan dan pertumbuhan otot rangka dan massa tulang. Efek anabolik dari hormon pria pada jaringa target lain. Akibat efek ini, kulit menebal dan sekresi kelenjar sebasea meningkat.

Karakteristik seksual sekunder berkembang termasuk pertumbuhan laring, penampilan pubis, aksila, muka dan rambut ekstremitas dan pertumbuhan penis. Androgen juga berperan dalam agresitifitas perilaku pria pubertas. Pada akhir dua puluhan tahun, secara genetik pria berkembang mengalami kebotakan.
Pengaturan produksi testosteron dan spermatogenesis

Androgen diperlukan untuk spermatogenesis dan maturasi sperma ketika melewati epididimis dan vas deferen. Androgen juga mengontrol pertumbuhan dan fungsi vesika seminalis dan kelenjar prostat.

Hormon perangsang gonadotropin (GnRH) disekresi secara episodic selama sehari dari hipotalamus, merangsang pituitary anterior untuk merangsang LH dan FSH. LH bekerja pada sel Leydig di dalam testis, merangsang produksi dan sekresi testosteron. Hormon ini masuk sel Sertoli testis dan menurun menjadi DHT. FSH dan DHT bekerja merangsang sintesis protein di dalam sel Sertoli yang meningkatkan spermatogenesis pada spermatogonia. Sel Sertoli juga meningkatkan inhibin, suatu protein yang dapat berfungsi sebagai umpan balik dan menghambat pelepasan FSH. Testosteron mempunyai efek umpan balik negatif pada sekresi LH.

Pada pria immature, FSH berkontribusi pada inisiasi spermatogenesis. Hormon berikatan pada reseptor membrane plasma sel Sertoli yang akan berikatan pada membrane dasar tubulus seminiferus testis. Sel ini tidak hanya menyediakan dukungan fisik untuk sel germinal yang bersebelahan melalui kekakuan sitoskeltonnya tetapi juga berespon terhadap rangsangan FSH dengan produksi protein yang meningkatkan maturasi spermatogonia di dalam tubulus.

Secara seksual, pada pria yang matur, FSH juga berikatan dengan reseptor spesifik pada membrane sel Sertoli, tetapi ketika spermatogenesis sedang berlangsung, testosteron dapat mempertahankan perkembangan sperma tanpa adanya FSH.

Anatomi dan Fisiologi

Struktur reproduksi pria terdiri dari penis; testis (jamak, testes) dalam kantong skortum; sistem duktus yang terdiri dari epididimis (jamak epididimidis), vas deferens (jamak, vasa deferens), duktus ejakulatorius, dan uretra; dan glandula asesoria yang terdiri dari vesikula seminalis, kelenjar prostat, dan kelenjar bulbouretralis (Gbr. 65-1)

Testes bagian dalam terbagi atas lobulus yang terdiri dari tubulus seminiferus, sel-sel Sertoli, dan sel-sel Leydig (Gbr. 65-2). Produksi sperma, atau spermatogenesis, terjadi pada tubulus seminiferus. Sel-sel Leydig mensekresi testosteron. Pada bagian posterior tiap-tiap testis, terdapat duktus melingkar yang disebut apididimis. Bagian kepalanya berhubungan dengan duktus seminiferus (duktus untuk aliran keluar) dari testis, dan bagian ekornya terus melanjut ke vas deferens. Vas deferens adalah duktus ekskretorius testis yang membentang hingga ke duktus vesika seminalis, kemudian bergabung membentuk duktus ejakulatorius. Duktus ejakulatorius selanjutnya bergabung dengan uretra, yang merupakan saluran keluar bersama, baik untuk sperma maupun kemih. Kelenjar asesoria juga mempunyai hubungan dengan sisten duktus. Prostat mengelilingi leher kandung kemih dan uretra bagian atas. Saluran-saluran kelenjar bermuara pada uretra. Kelenjar bulbouretralis (kelenjar Cowper) terletak dekat meatus uretra. Penis terdiri dari tiga massa jaringan erektil berbentuk silinder memanjang yang memberi bentuk pada penis. Lapisan dalamnya adalah korpus spongiosum yang membungkus uretra, dan dua massa paralel di bagian luarnya, yaitu korpus kavernosum. Ujung distal penis, dikenal sebagai glans, ditutupi oleh prepusium (kulup). Prepusium dapat dilepas dengan pembedahan (sirkumsisi, sunat).

Fungsi sistem reproduksi pria

Fungsi primer dari sistem reproduksi pria adalah memnghasilkan spermatozoa matang dan menempatkan sperma dalam saluran reproduksi perempuan melalui sengama. Testes mempunyai fungsi eksokrin dalam spermatogenesis dan fungsi endokrin untuk mensekresi hormon-hormon seks yang mengendalikan perkembangan dan fungsi seksual. Semua fungsi dari sistem reproduksi pria diatur melalui interaksi hormonal yang kompleks.

Gbr. 65-1 Sistem reproduksi pria.

Fungsi hormonal

Pusat pengendalian hormonal dari sistem reproduksi adalah sumbu hipotalamus-hipofisis (Gbr. 65-3). Di bawah pengaruh berbagai hal seperti keturunan, lingkungan, rangsangan kejiwaan, dan kadar hormon yang bersikulasi, hipotalamus memproduksi gonadotropic hormon-releasing hormon (GnRH). Hormon-hormon ini adalah follicle-stimulating hormon-releasing hormon (FSHRH) dan luteinizing hormon-releasing hormon (LHRH). Hormon-hormon ini dibawa ke hipofisis anterior untuk merangsang sekresi follicle stimulating hormon (FSH) dan luteinizing hormon (LH), yang pada pria lebih umum dikenal sebagai interstitial cell-stimulating hormon (ICSH). Hormon-hormon gonadotropin disekresi dalam kadar yang tetap pada pria.

Testosteron mengarahkan dan mengatur cirri-ciri tubuh pria, yaitu perkembangan testes dan genitalia pria, desensus testes dari rongga abdomen ke dalam skortum selama masa janin, perkembangan cirri seksual primer dan sekunder, dan spermatogenesis.

Gbr. 65-2 Testes. A, Pandangan eksternal. B, Potongan sagital.

Produksi testosteron oleh sel-sel interstitial Leydig pada pria akan sangat meningkat pada permulaan pubertas. Awal pubertas ditandai oleh meningkatnya kadar hormon-hormon ICSH secara nyata, yang mula-mula diproduksi sewaktu tidur. Kadar yang tinggi pada awal pubertas ini menyebabkan meningkatnya produksi testosteron oleh testes. Estron dan estradiol juga diproduksi dan berasal dari konversi testosteron yang dibuat oleh adrenal dan testes, dan dari androstenedion. Kadar globulin pengikat hormon-hormon seksual akan menurun selama pubertas, sehingga menyebabkan lebih banyak testosteron bebas dalam sirkulasi. Pertumbuhan yang pesat terjadi pada setiap sistem organ dalam tubuh kecuali sistem saraf pusat dan sistem limfatik. Yang paling menonjol adalah perubahan dalam tinggi, berat badan, serta cirri-ciri seksual sekunder. Puncak dari pesatnya pertumbuhan terjadi pada usia sekitar 14 tahun. Tingkat kecepatan pertumbuhan rata-rata pada persentil ke-50 adalah 5 inci dari usia 12 hingga14,5 tahun dan 3 inci lagi sampai pada usia 16 tahun; puncak pertambahan berat badan terjadi pada usia 14 tahun dengan separuhnya terjadi pada usia antara 12 dan 16 tahun, dan kebanyakan berupa otot-otot baru.

Ciri-ciri seksual sekunder yang muncul paling awal adalah bertambahnya ukuran testes dan skortum, dan kemudian penis. Perkembangan testes disebabkan oleh bertambah dan berkembangnya tubulus seminiferus, dan jumlah sel-sel Leydig dan Sertoli. Perkembangan genitalia untuk mencapai ukuran dan bentuk dewasa membutuhkan waktu 5 sampai 6 tahun. Cirri-ciri seksual primer kemudian mencapai kematangan fungsi produksinya, namun untuk dapat mencapai ini, pria harus mampu menghasilkan sperma yang hidup.

Gbr. 65-3 aksis hormon hipotalamus-hipofisi-testis. ICHRH, hormon pelepas-hormon sel intersisial; FSHRH, hormon pelepas-hormon perangsang folikel; ICSH, hormon perangsang-sel intersisial; FSH, hormon perangsang-folikel.
Spermatogenesis

Spermatogenesis dimulai sejak pubertas, pada usia sekitar 13 tahun dan berlangsung seumur hidup. Sel-sel benih di tubulus seminiferus, yaitu spermatogonia, mulai berproliferasi (mitosis). Sebagian dari sel anak tetap menjadi spermatogonia dan yang lainnya berjalan ke lumen tubulus seminiferus dan membesar menjadi spermatosit primer. Spermatosit primer akan mengalami pembelahan miosis sehingga terbentuk dua spermatosit sekunder. Masing-masing spermatosit sekunder akan menjalani pembelahan miosis yang kedua, yang akan menghasilkan dua spermatid. Dengan demikian, satu spermatogonia akan menjadi empat sperma. Setelah itu tidak akan terjadi pembelahan lebih lanjut, dan masing-masing spermatid akan menjalani proses pematangan dan berdiferensiasi menjadi sperma yang matang dengan bagian-bagian kepala, leher, badan dan ekor. Spermatogenesis berlangsung terus menerus sepanjang kehidupan selama masa pubertas. Sperma disimpan di epididimis dan vas deferens, dan kesuburannya dapat bertahan sampai 42 hari. Jika sperma tidak dipancarkan keluar atau tidak terjadi ejakulasi, diperkirakan spermatozoa akan diserap oleh tubuh. Selama senggama, sperma akan ditempatkan dalam vagina wanita. Setelah ejakulasi, sperma paling lama dapat bertahan selama 24 sampai 72 jam dalam suhu tubuh. Pada suhu yang lebih rendah semen dapat disimpan selama bertahun-tahun.

Fungsi Testikular

Pada embrio, antigen H-Y yang dihasilkan oleh kromosom Y menyebabkan prosesdiferensiasi sel-sel Sertoli. Sel-sel ini akan mengatur distribusi sel-sel benih pada masa perkembangan embrio-janin dan menyekresi mȕllerian-inhibitting substrance (MIS). MIS menyebabkan regresi dari sistem duktus mȕlleri, (yang pada wanita akan berkembang menjadi struktur reproduksi). Proses pematangn sel-sel Leydig janin dikiendalikan oleh kromosom Y, dan dirangsang oleh ICSH. Sel-sel Leydig ini akan menghasilkan testosteron yang menyebabkan proses diferensiasi dari vasa deferens dan vesikula seminalis; metabolit testosteron, yaitu dihidrotestosteron (DHT), menyebabkan proses diferensiasi dari prostat dan genitalia eksterna.

Selama enam bulan pertama kehidupan, sel-sel Leydig terus menghasilkan testosteron dalam kadar yang rendah, tetapi kemudian akan regresi menjelang pubertas. Pada masa pubertas, FSH akan merangsang pertumbuhan tubulus dan testicular, dan testes akan memulai fungsi pria dewasanya. ICSH akan merangsang sel-sel Leydig untuk menghasilkan testosteron, DHT dan estradiol; FSH akan merangsang sel-sel Sertoli untuk mempengaruhi pembentukan sperma. FSH dalam kadar yang rendah juga akan memperkuat efek perangsangan ICSH. Testosteron harus dihasilkan dalam kadar yang cukup supaya proses spermatogenesis dapat berlangsung dengan sempurna. Dengan demikian, baik FSH maupun ICSH harus dilepaskan oleh hipofisis anterior agar spermatogenesis dapat berlangsung. Selanjutnya testosteron, DHT, estradiol, dan zat yang disekresi oleh tubular-inhibin-akan menghambat sekresi ICSH dan FSH oleh hipofisis anterior, sehingga dengan demikian akan terjadi sistem umpan balik yang mengatur kadar testosteron dalam sirkulasi darah.

Perubahan karena usia

Istilah klimakterium pada pria ditujukan pada saat fungsi reproduksi fisiologis mulai menurun sehubungan dengan proses penuaan. Sulit untuk memisahkan penurunan fungsi reproduksi dengan penurunan kebugaran tubuh yang terjadi pada usia lanjut, dan ada kemungkinan menurunnya kebugaran bertanggung jawab atas menurunnya fungsi reproduksi. Proses penurunan ini terjadi lebih lambat daripada proses pada perempuan; dengan demikian fungsi reproduksi pada pria akan dapat bertahan pada usia lanjut. Tubulus seminiferus dari testes akan terus menghasilkan sperma, meskipun jumlahnya lebih sedikit dengan bertambahnya usia.. sepuluh persen dari tubulus seminiferus akan berhenti pada usia 40, 50% pada usia 50, dan 90% pada usia 80. Kadar testosteron akan menurun secara bertahap. Jumlah sel-sel Leydig mungkin menurun, seperti halnya kemampuan sel-sel yang masih ada untuk menghasilkan testosteron.

Gagalnya untuk mencapai atau mempertahankan ereksi penis (impotensi) lebih sering terjadi pada usia lanjut. Sebab-sebab dari keadaan ini tidak selamanya dapat diketahui; tetapi faktor-faktor psikologis diperkirakan dapat terjadi pada beberapa kasus. Secara fisiologis, vena dan arteri memperdarahi jaringan erektil penis juga dapat mengalami sklerosis akibat proses penuaan seperti halnya pembuluh darah lain dalam tubuh, dan hal ini dapat menjadi penyebab impotensi.

Beberapa gangguan sistem reproduksi pria

Hipogonadisme

Hipogonadisme dapat terjadi primer akibat disfungsi sel-sel Leydig, atau sekunder dari disfungsi unit hipotalamus-hipofisis. Hipogonadisme sekunder kemudian dibagi lagi menjadi disfungsi hipotalamus dan disfungsi hipofisis. Disfungsi hipotalamus atau hipofisis menyebabkan hipofungsi sel Leydig.

Hipogonadisme pada pria ditandai dengan adanya penurunan abnormal dari aktivitas fungsional testes. Kelainan ini adalah kelainan yang paling sering ditemukan dalam klinik. Hormon-hormon androgen, testosteron, dan DHT sangat penting untuk perkembangan pria, mulai dari embriogenesis sampai perkembangan selanjutnya pada masa pubertas, dan untuk berfungsinya sistem reproduksi pada sepanjang kehidupan. Gangguan pada interaksi hormonal yang kompleks pada tahap mana pun merupakan penyebab dari banyak sindrom dan kelainan yang memiliki konsekuensi serupa antara lain infertilitas, impotensi, atau tidak adanya tanda-tanda kepriaan sama sekali (pseudohermafroditisme pria). Akibat dari hipogonadisme pada pria berbeda-beda tergantung pada (1) saat awitan dari defisiensi testosteron (yaitu, selama embriogenesis, sebelum pubertas, atau setelah pubertas),(2) penyebab utama dari kalainan (yaitu kelainan testis atau hipotalamus-hipofisis), dan (3) status fungsional testes (yaitu produksi testosteron yang menyebabkan terganggunya spermatogenesis, atau produksi testosteron rendah yang menyebabkan terganggunya spermatogenesis, atau produksi testosteron normal dangan hambatan spermatogenesis saja). Pada banyak kasus, hipogonadisme dapat diobati, tapi pada beberapa kasus dapat ireversibel.

Penyebab hipogonadisme dapat merupakan kelainan congenital atau gangguan perkembangan, gangguan didapat ataupun sistemik. Hipogonadisme primer akibat kekurangan testosteron menyebabkan peningkatan produksi GnRH dan hormopn-hormon gonadotropin untuk merangsang produksi hormon-hormon androgen oleh testis. Jenis ini disebut sebagai hipogonadisme hipergonadotropik. Yang termasuk dalam kategori ini adalah sindrom Klinefelter, sindrom Reifenstein, sindrom Turner pria, sindrom sel Sertoli saja, anorkisme, orkitis, dan gejala sisa iradiasi. Hipogondisme sekunder akibat kekurangan testosteron menyebabkan penurunan kadar GnRH dari hipotalamus atau penurunan kadar hormon-hormon gonadotropin dari hipofisis, jenis ini disebut sebagai hipogonadisme hipogonadotropik. Yang termasuk kategori ini adalah hipopituitarisme, defisiensi FSH saja, sindrom Kallmann, dan sindrom Prader-Willi.

Hiperplasia prostat

Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah penyakit yang disebabkan oleh penuaan. Tanda klinis BPH biasanya muncul pada lebih dari 50% pria yang berusia 50 tahun keatas. Hiperplasia prostatik adalah pertumbuhan nodul-nodul fibroadenomatrosa majemuk dalam prostat; pertumbuhan tersebut dimulai dari bagian periuretral sebagai proliferasi yang terbatas dan tumbuh dengan menekan kelenjar normal yang tersisa. Jaringan hiperplastik terutama terdiri dari kelenjar dengan stroma fibrosa dan otot polos yang jumlahnya berbeda-beda. Prostat tersebut mengelilingi uretra, dan pembesaran bagian periuretral akan menyebabkan obstruksi leher kandung kemih dan uretra pars prostatika, yang mengakibatkan berkurangnya aliran kemih dari kandung kemih. Penyebab BPH kemungkinan berkaitan dengan perubahan hormon. Dengan penuaan, kadar testosteron serum menurun, dan kadar estrogen serum meningkat. Terdapat teori bahwa rasio esterogen/androgen yang lebih tinggi akan merangsang hiperplasia jaringan prostat.

Tanda dan gejala yang sering terjadi adalah gabungan dari hal-hal berikut dalam derajat yang berbeda-beda yaitu sering berkemih, nokturia, urgensi (kebelet), urgensi dengan inkontenensia, tersendat-tersendat, mengeluarkan tenaga untuk mengalirkan kemih, rasa tidak lampias, inkontenensia overflow, dan kemih yang menetes setelah berkemih. Kandung kemih yang terenggan dapat teraba dalam pemerikasaan abdomen, dan tekanan suprapubik pada kandung kemih yang penih akan menimbulkan rasa ingin berkemih. Prostat diraba sewaktu pemeriksaan rectal untuk menilai besarnya kelenjar.

Tes diagnosik yang dipakai termasuk USG abdominal untuk melihat hidronefrosis atau massa di ginjal dan untuk menghitung volume sisa urine setelah berkemih dan ukuran prostat. Kistoskopi dilakukan untuk menyingkirkan adanya divertikula kandung kemih, batu dan tumor. Pengukuran angka aliran urine dan uretogram retrograd juga dapat dilakukan.

Obstruksi pada leher kandung kemih mengakibatkan berkurangnya atau tidak adanya aliran kemih, dan ini memerlukan intervensi untuk membuka jalan keluar urine. Metode yang mungkin adalah prostatektomi parsial, reseksi transuretral prostat (TUR) atau insisi prostatektomi terbuka, untuk mengangkat jaringan periuretral hiperplastik; insisi transuretral melalui serat otot kandung kemih untuk memperbesar jalan keluar urine; dilatasi balon pada prostat untuk memperbesar lumen uretra; dan terapi antiandrogen untuk membuat atrofi prostat. Baru-baru ini dikembangkan metode pengobatan non-bedah yaitu kateter uretra permanen yang ditempatkan pada uretra pars prostatika.

Bab II Kesimpulan

________________________________________

Proses spermatogenesis dipengaruhi oleh hormon-hormon yang dihasilkan oleh organ hipotalamus, hipofisis dan testis sendiri. Hormon yang terlibat adalah testosteron, hormon lutein (LH), hormon perangsang folikel (FSH), estrogen, dan hormon pertumbuhan lainnya.

Testis selain sebagai organ penghasil sperma juga menghasilkan hormon-hormon seperti testosteron, dihydrotestosteron, estradiol, estron, pregnenolon, 17-hydroxypregnenolon, 5-androstenadiol, 17-hyroxy progesterone dan progesterone. Hormon-hormon ini selain testosteron tidak jelas apakah diproduksi oleh sel Leydig atau dari oleh sel-sel dari tubulus seminiferus.

 Testosteron

Sekresi hormon ini ole sel-sel Leydig yang terletak di intersisium testis. Hormon ini memegang peranan penting pada satu tahap penting proses pembelahan sel-sel germinal untuk pembentukan sperma, terutama pembelahan miosis untuk membentuk spermatosit sekunder. Hormon ini mengontrol perkembangan organ reproduksi pria berupa pembesaran laring, perubahan suara, pertumbuhan rambut ketiak, pubis, dada, kumis dan jenggot. Juga untuk pertumbuhan otot dan tulang.

 Hormon lutein

Hormon ini disekresi oleh sel karminofil dari kelenjar hipofisis bagian anterior. Berperan dalam stimulasi sel-sel Leydig untuk memproduksi testosteron, juga menyebabkan dihasilkannya estradiol.

 FSH

Dihasilkan oleh sel basofil lobus anterior hipofisis. Pada testis, hormon ini mengakibatkan terpacunya adenyl cyclase di dalam sel sertoli yang berperan dalam meningkatkan produksi siklik AMP, memacu produksi androgen binding protein (ABP) di dalam tubuli seminiferus dan di dalam epididimis. Dengan demikian, FSH bekerja menyiapkan kadar androgen yang cukup untuk sel germinal dan memacu pendewasaan spermatozoa di dalam epididimis.

 Estrogen

Dibentuk oleh sel-sel Sertoli ketika sedang di stimulasi oleh FSH. Hormon ini kemungkinan diperlukan pada proses spermiasi. Sel-sel Sertoli juga menyekresikan suatu protein pengikat androgen. Yang mengikat baik testosteron dan estrogen maupun keduanya ke dalam cairan tubulus seminiferus, yang diperlukan untuk maturasi sperma.

 Hormon pertumbuhan lainnya

Seperti juga pada sebagian besar hormon lainnya yang diperlukan untuk mengatur latar belakang fungsi metabolisme testis. Hormon pertumbuhan secara khusus meningkatkan pembelahan awal spermatogenesis.

Bab III Daftar Pustaka

________________________________________

Saryono, S.Kp.,M.Kes.2008.Biokimia Reproduksi. Jogjakarta:Mitra Cendikia Pres

Price, A. Sylvia & Wilson, Lorraine M.2006.Patofisiologi:Konsep klinis Proses-Proses Penyakit, E/6, Vol 2.Jakarta: EGC

Yahya,Harun.--.Keajaiban Hormon.--:--

Dan berbagai sumber hasil browsing internet yang diakses dari tanggal 15 Oktober 2010 hingga 19 Oktober 2010.

Senin, 15 Maret 2010

Tami Merpati Menguji Cinta

Tami Merpati Menguji Cinta

merpati termasuk burung yang hebat karena ia dapat menemukan jalan pulang meskipun jaraknya ribuan kilometer. oleh karena itu, merpati pos sering digunakan untuk mengirim surat.

Tami adalah seekor burung dara yang cantik nan rupawan. berpuluh merpati jantan telah mencoba peruntungan untuk mempersuntingnya. namun sayang, tak satu pun jua yang berkenan di hati sang dara. sampai akhirnya Tami berjumpa dengan seekor perjaka merpati tampan yang anehnya justru seolah tak mengindahkan kehadiran sang dara rupawan.

Tami terbakar oleh rasa penasaran, ingin sekaliia mengajak si tampan berkenalan. Amboi, ketika Tami mengulurkan kesempatan, si Jaka malah tertunduk tak bersuara, hanya merah meronai semburat wajahnya. dengan gigih, Tami akhirnya meminang paksa. entah apa sebenarnya yang ada dalam lubuk hati sang Jaka, tapi toh ia menerimanya.

tak terasa tiga purnama terlalui sudah. sang Jaka tetaplah sebagaimana sediakala, pemalu dan bijaksana. sedikit sekali kata terlontar dari paruhnya. tak seperti lazimnya pasangan muda yang dimabuk cinta, kata 'sayang' diobral seroyalnya. Tami gundah, ia resah dan gelisah. benarkah ia mencintaiku ?, bisik hati kecilnya.

lama kelamaan keraguan itu semakin menghantuinya, Tami pun merasa dirinya semakin tak berarti. perlahan tapi pasti, tumbuh pikiran untuk membuktikan, benarkah ia memang dibutuhkan ?. Akhirnya Tami nekat mengikuti gejolak keresahan. ia lelah menanti dalam sebuah ketidakpastian. Tami pun terbang meninggalkan sarang tanpa tujuan. ia hanya menuruti kemana kepakan sayap-sayap mungilnya membawa.

untuk tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. saat Tami terbang tanpa tujuan, datanglah angin topan dahsyat yang mendera atmosfer dengan hebatnya. Tami terlontar, membumbung tinggi terbawa dalam pusaran. tak berdaya ia mengepakkan sayapnya. ketakutan dan kegelapan segera saja melanda. bahkan Tami berfikir bahwa tamat sudah riwayatnya. ternyata, keajaiban itu memang ada, Tami selamat. ia hanyut dalam gejolak liar arus udara sejauh 6000 kilometer dari tempatnya semula. Tami terdampar di sebuah pulau kecil tak bertuan. isinya hanya lima batang pohon randu tua, sekelilingnya membiru air laut samudera. sejauh Tami melepas pandang, tak satu pun titik dapat yang dapat diamatinya. yah inilah ujung dunia, pikir Tami.

tamat sudah segalanya, delapan bulan telah berlalu, air mata Tami telah mengering dan kelopaknya kini berdebu. pandangannya kabur dan hampir seluruh harapannya habis terkubur. ia yakin, inilah hukuman baginya yang telah menyia-nyiakan cinta.

tiba-tiba dalam puncak kelelahannya, seolah melihat fatamorgana. ada secercah noktah hitam yang muncul dari balik cakrawala. makin lama, noktah itu semakin mendekat dan kepakannya makin terlihat. Tami nyaris tak percaya apa yang dilihatnya.

sang Jaka akhirnya hinggap sempurna di ranting randu tua yang kerontang, tepat di sisi isterinya. Tami tak kuasa untuk berkata-kata. ditatapnya sang Jaka yang nyaris botak sempurna. seluruh helai bulunya gugur dalam perjalanan menyabung nyawa dan kelopak matanya lebam menghitam dengan kelelahan yang mendalam. sekujur tubuhnya tersayat-sayat luka meski rasanya tak sepedih ditinggalkan cinta.

akhirnya, untuk kali pertama sang Jaka berkata, " kusiapkan sedikit ruang kecil di hatiku untuk kau tempati dan kusisihkan sebagian terbesarnya untuk sang Empunya dengan segala ketetapan-Nya. aku yakin, ruang itu kelak akan terisi oleh rasa sakit, kecewa, sedih, dan timbunan benih-benih harapan yang gagal disemaikan. namun ruang kecilmu, sayang, telah kuukur melampaui rentang tujuh samudera..."



hikmah

cinta memang tak berbatas tegas, tetapi dalam proses memaknainya kita harus memiliki orientasi yang jelas. setiap makhluk layak untuk dicintai. namun ingat, ada yang Mahalayak senantiasa menanti. jadikanlah semua cinta dalam hidup ini sebagai tangga yang diteliti untuk mencapai hakikat cinta sejati.


sumber : think dulu baru clink


Kamis, 04 Maret 2010

PENGGOLANGAN OBAT MENURUT PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN FARMASI

Golongan obat adalah penggolongan yang dimaksud untuk peningkatan keamanan dan ketepatan penggunaan serta pengamanan distribusi yang terdiri dari obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras, psitropika dan narkotika.

Untuk mengawasi penggunaan obat oleh rakyat serta untuk menjaga keamanan penggunaannya, maka pemerintah menggolongkan obat menjadi 4 golongan, yaitu :

1. Obat yang dapat dijual bebas.

2. Obat yang termasuk dalam penggolangan Obat Bebas Terbatas (dulu disebut daftar W), yaitu obat keras dengan batasan jumlah dan kadar isi berkhasiat dan harus ada tanda peringatan (P) boleh dijual bebas.

3. Obat keras (dulu disebut obat daftar G = gevaarlijk = berbahaya) yaitu obat berkhasiat keras yang untuk memperolehnya harus dengan resep dokter.

4. Obat narkotika (dulu disebut obat daftar O = opiate) untuk memperolehnya harus dengan resep dokter dan apotek diwajibkan melaporkan jumlah dan macamnya.

Selain tersebut diawasi pula penggunaan obat/bahan psikotropik. Yang disebut obat bebas yaitu obat yang tidak digolongkan sebagai obat keras, obat psitropik, obat narkotik maupun obat bebas terbatas.

a. Sebagai contoh Obat Bebas dapa disebutkan

1. Tablet Vit. C 100 mg, 50 mg, 250 mg; Tablet B complex, Tablet B1 100 mg, 50 mg, 25 mg; tablet multivitamin. Calcivit sirup,Erceevit sirup.

2. Boorwater, 2-4 salap, salep boor.

3. Julapium, buikdrank, staaldrank dsb.

b. Sebagai contoh Obat Bebas Terbatas dapat disebutkan :

1. Ammonia 10% ke bawah (P5)

2. Aqua Plumbi Goulardi (P3)

3. Tinctura Iodii (P3) = antiseptic

4. Liquor Burowi (P3) = obat kompres

5. Gargarisma Kan (P2) = obat kumur

6. Rokok Asthma (P4) = obat asthma

7. Antimo (P1) = anti muntah dalam perjalanan

8. Tablet Emetinum 2 mg (P1) = obat anti disentri

9. Tablet Ephedrinum 25 mg (P1) = obat asthma

10. Lysol (P5) = antiseptic

11. Larutan Mercurochroom (P3) = antiseptic local

12. Tablet Phenoplphthaleinum 100 mg, contoh Brooklax (P1) = laksan

13. Tablet Santonin 30 mg (P1) = obat cacing

14. Serbuk Sulfanilamidum = SA ≤ 5 mg dalam bungkus = antiseptic = anti bakteri local

15. Tablet-tablet Sulfaguanidinum, Phtalysulfathiazolum, Succinylsulfathiazolum 600 mg dan tidak lebih dari 20 tablet setiap bungkus (P1) = anti diarrhea

16. Supositoria untuk Wasir = anusol (P6) = obat ambein

17. Tablet Chloroprophenpyridamin Maleas (CTM = Pehachlor 4 mg dan tidak lebih dari 20 tablet setiap bungkus atau 120 ml syrup setiap botol (P1) = anti histamin

18. Ovula Sulfanilamidum (P5) = anti infeksi di vagina

19. Tablet atau kapsul Vit. E 120 mg = Juvelon = Evion (P1) = anti sterilitas

20. Salep Sulfonamidum 11% (P3) = anti bakteri local

21. Tablet yang mengandung Methioninum 120 mg = Litrison (P1)

22. Tablet Vit. K 1,5 mg (P1) = anti pendarahan

23. Tablet Chloroquin = Nivaquin 160 mg tidak lebih dari 4 tablet setiap wadah (P1) = anti malaria

24. Tablet Tetramisolum = Ascaridil 150 mg (P1) = obat cacing

25. Tablet Bisacodylum = Dulcolax 10 mg (P1) dan Supositoria Dulculax (P5) = laksan

26. Tablet Dextromethorphani Hydrobromidum = Code 15 ≤ 16 mg (P1) = obat batuk pengganti codein

27. Tablet Pyritinoli Hydrochloridum = Encephabol 120 mg (P1) = stimulasi otak

28. Sirup-sirup yang mengandung Promethazinum 1,5 mg setiap ml dan tidak lebih dari 120 ml tiap botol (P1) = obat batuk. Dalam brosur harus ditulis peringatan “ Selama meminum obat ini tidak boleh mengendarai kendaraan bermotor atau menjalankan mesin”.

29. Sediaan yang mengandung Noscapinum 30 mg tiap tablet (P1) atau 6 mg tiap ml larutan/ sirop (P1) = obat batuk

30. Sediaan yang mengandung Piperazinum 600 mg tiap tablet (P1) atau 200 ml tiap ml larutan/ sirop (P1) = obat cacing

31. Sedian yang mengandung Ephedrinum 35 mg tiap tablet atau takaran dan tidak melebihi 20 tablet atau 120 ml tiap botol (P1), atau ≤ 0,5 mg dalam kemasan tidak melebihi 30 ml sebagai obat luar atau tetes mata/ hidung (P1) = obat asthma, atau melegakan hidung atau melebarkan pupil.

Obat Bebas Terbatas yang dicabut adalah sediaan obat sedot yang mengandung Amphetaminum.

P. No. 1

Awas ! Obat Keras

Bacalah aturan memakainya, ditelan

P. No. 2

Awas ! Obat Keras

Hanya untuk dikumur, jangan ditelan

P. No. 3

Awas ! Obat Keras

Hanya untuk bagian luar dari badan

P. No. 4

Awas ! Obat Keras

Hanya untuk dibakar

P. No. 5

Awas ! Obat Keras

Tidak boleh ditelan

P. No. 6

Awas ! Obat Keras

Obat wasir, jangn ditelan

Semua Obat Bebas dan Obat Bebas Terbatas diwajibkan di dalm bungkusnya disertakan brosur yang menerangkan :

1. Cara pemakaian obat.

2. Dosis (jumlah takaran), kontra indikasi.

3. Kemungkinan adanya gangguan alergi terhadap obat serta gejala-gejalanya.

Apabila tidak dipenuhi obat tersebut dinyatakan sebagai Obat Keras, yang tidak boleh dijual tanpa resep.

c. Contoh beberapa obat yang termasuk daftar G, ialah :

1. Semua obat injeksi

2. Obat antibiotika, misalnya Chloraphenical, Penicillin, Tetracylin, Ampicilin dll.

3. Obat anti bakteri seperti Sulfadiazin, Sulfasomidin = Elkosin, Trisulfa dll.

4. Amphetaminum (OKT)

5. Antazolinum = Antistin = obat antihistamin

6. Digitoxin, Lanatosid C = Cedilanid, Digitalis folia = obat jantung.

7. Hydantonium = obat anti epilepsy

8. Reserpinum = obat anti hipertensi

9. Vit. K = anti pendarahan

10. Yohimbin = aphrodisiaka

11. Meprobamatum = penenang (tranquilizer)

12. Isoniazidum = INH = anti TBC

13. Nitroglycerinum = obat jantung

14. Benzodiazepinum contoh Diazepam = tranquilizer, Nitrazepam = Hipnotik (OKT)

15. Indomethacinum = obat rheumatic

16. Tripelenamin Hydrochloridum = antihistamin

d. Contoh obat yang termasuk Obat Narkotik

1. Opium

2. Sediaan Opium : Tinctura, Extractum, Pulv. Doveri dll.

3. Kokain kasar dan Ecgonin

4. Morfin, Diasetil Morfin, Kokain dan garamnya.

5. Cannabis Indicac = ganja dan sediaannya : daun, ekstrak dan tingtura.

6. Kodein, Thebain dan juga preparat dari Dikodid, Dilaudid, Eukodal dll.

7. Daun Koka dan senyawa serta sediaan galenik yang dibuat darinya.

8. Obat bius sintetis, misalnya :

a. Dolantin, Pethidin, Demerol.

b. Amidon, Methadon, Symoron dll.

SK daftar Obat Narkotik :

SK Menkes RI No. 65/Menkes/SK/IV/77, dan diatur pula dalam undang-undang No. 9 tahun 1976 tentang Narkotik.

e. Contoh Obat Wajib Apotek

1. Clindamicin 1 tube, obat luar untuk acne.

2. Diclofenac 1 tube, obat luar untuk anti inflamasi.

3. Flumetason 1 tube, obat luar untuk inflamasi.

4. Ibuprofen tab. 400 mg, 10 tab.

tab. 600 mg, 10 tab.

5. Ketokenasol kadar 2 % sebagai obat luar

Krim 1 tube untuk infeksi jamur

Scalp Sol. 1 btl. Local

Istilah-istilah obat yang perlu diketahui :

Obat sering disebut obat modern, ialah suatu bahan yang dimaksudkan untuk digunakan dalam menetapkan diagnose, mencegah, mengurangkan, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, lika atau kelainan badaniah dan rohaniah pada manusia atau hewan, memperelok badan atau bagian badan manusia.

a. Obat tradisional ialah obat jadi atau obat terbungkus yang berasal dari badan tumbuh-tumbuhan, hewan, mineral atau sediaan galenik atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang usaha pengobatan berdasarkan pengalaman (Per. Menkes No. 179/Menkes/Per/VII/1976).

b. Obat jadi yakni obat dalam keadaan murni atau campuran dalam bentuk serbuk, cairan, salep, tablet, pil, supositoria atau bentuk lainnya yang mempunyai nama teknis sesuai dengan FI atau buku lain.

c. Obat paten yakni obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama si pembuat atau yang dikuasakannya dan dijual dalam bungkus asli dari pabrik yang memproduksinya.

d. Obat baru ialah obat yang terdiri atau berisi suatu zat baik sebagai bagian yang berkhasiat, maupun yang tak berkhasiat, misalnya lapisan, pengisi, pelarut, bahan pembantu (vehiculum) atau komponen lain yang belum dikenal, hingga tidak diketahui khasiat dan keamanannya.

e. Obat esensial adalah obat yang paling dibutuhkan untuk pelaksanaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terbanyak yang meliputi diagnose, profiaksi terapi dan rehabilitasi.

f. Obat generic berlogo adalah obat esensial yang tercantum dalam Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dan mutunya terjamin karena diproduksi sesuai dengan persyaratan CPOB dan diuji ulang oleh Pusat Pemeriksaan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan.

g. Obat wajib apotek ialah obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter oleh apoteker di apotik.

Obat-obat yang dilarang penjuakan dan peredarannya, ialah :

a. Thalidomide dan segala sediaan yang mengandung obat tersebut antara lain Softenon (Perancis) dan Contergen (Grumenthal, Jerman). Obat ini belum pernah beredar di Indonesia. Sebab dilarang ialah menimbulkan cacat anggota badan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang menggunakan obat tersebut. Obat tersebut digunakan sebagai obat tidur.

b. Meclizine dan segala sediaan yang mengandung obat tersebut antara lain : Travel-on (BKF), Postafene (Union Chemique Belgium), Emsafene (BKF), Nonamine (Pfizer). Obat ini digunakan sebagai obat anti muntah.

c. Phenmetrazine dan segala sediaan yang mengandung obat tersebut antara lain : Preludin dan Obazin. Obat ini digunakan sebagai obat pengurus badan (anti obesitas) yaitu mengurangi berat badan.

d. DET; DMNP; DMT; (+) – Lysergide = LSD; LSD -25. Bahan ini merupakan bahan psitropik yang mempengaruhi psikhe orang.

e. Penggunaan Pyramidon = Amidozon dan Chloroform sebagai bahan obat.

f. Semua obat yang tidak didaftarkan ke Depkes, dinyatakan sebagai obat berbahaya dalam arti UNdang-Undan Obat Berbahaya.

g. Semua obat yang ditarik dari peredaran oleh Depkes dinyatakan tidak boleh dijual atau diedarkan.

MACAM-MACAM EFEK OBAT

Factor formulasi dan cara penggunaan obat akan menentukan kecepatan dan banyaknya obat dapat diabsorpsi dan efek yang diperoleh yaitu,

1. Efek sistemik, ialah obat beredar ke seluruh tubuh melalui aliran darah,

2. Efek local, ialah efek hanya setempat dimana obat digunakan.

Cara-cara penggunaan obat yang memberi efek sistemik ialah ;

a. Oral, yaotu penggunaan obat melalui mulut dan masuk perut.

b. Sublingual, yaitu tablet diletakkan di bawah lidah.

c. Bukal, yaitu tablet diletakkan di antara gusi dan pipi.

d. Injeksi atau parenteral.

e. Implamasi subkutan, yaitu tablet (pellet) kecil steril dimasukkan di bawah lapisan kulit dengan alat trokar.

f. Rectal, yaitu tablet khusus atau supositoria dimasukkan ke dalam dubur.

Cara penggunaan obat yang memberi efek local ialah ;

a. Inhalasi, yaitu larutan obat disemprot kedalam mulut atau hidung dengan suatu alat seperti inhaler, vaporizer, nebulizer atau aerosol.

b. Penggunaan obat pada mukosa seperti mata, telinga, hidung, vagina, dan sebagainya dengan obat tetes, busa, dan sebagainya.

c. Penggunaan pada kulit dengan salep, krim, losion. Dan sebagainya.

Efek obat

Umumnya mempunyai efek atau aksi lebih dari satu, maka dari itu efek dapat berupa :

1. Efek terapi, ialah efek atau aksi yang merupakan satu-satunya pada letak primer. Ada tiga macam pengobatan terapi, yaitu :

a. Terapi kausal, ialah obat yang meiadakan penyebab penyakit.

b. Terapi simtomatik, ialah obat yang menghilangkan atau meringankan gejala penyakit.

c. Terapi substitusi, ialah obat yang menggantikan zat yang lazim dibuat oleh orang yang sakit.

2. Efek samping, ialah efek obat yang tidak diinginkan untuk tujuan efek terapi dan tidak ikut pada kegunaan terapi.

3. Efek teratogen, ialah efek obat yang pada dosis terpetik untuk ibu mengakibatkan cacat pada janin, misalnya fokomolia (kaki dan tangan bayi seperti kepunyaan anjing laut).

4. Efek toksis, ialah aksi tambahan dari obat yang lebih berat disbanding efek samping dan merupakan efek yang tidak diinginkan. Tergantung dengan besarnya dosis obat dapat diperoleh efek terapi atau efek toksis.

5. Idiosinkrasi, ialah efek suatu obat yang secara kualitatif berlainan sekali dengan efek terapi normal.

6. Fotosensitasi, ialah efek kepekaan yang berlebihan terhadap cahaya yang timbul akibat penggunaan obat. Contohnya ialah akibat penggunaan Bithionol sebagai antiseptika local.

EFEK PENGULANGAN ATAU PENGGUNAAN OBAT YANG LAMA

1. Reaksi hipersensitif = suatu reaksi alergik merupakan respon abnormal; terhadap obat atau zat dimana pasien sebelumnya telah kontak dengan obat tersebut sehingga berkembang timbulnya antibody.

2. Kumulasi = suatu fenomena pengumpulan obat dalam badan sebagai akibat pengulangan penggunaan obat, dimana obat diekskresikan lebih lambat dibanding kecepatan adsorpsi.

3. Toleransi = suatu fenomena berkurangnya respon terhadap dosis obat yang sama. Untuk memperoleh respon yang sama perlu dosisnya diperbesar. Ada tiga macam toleransi,

a. Toleransi primer, ialah toleransi bawaan yang terdapat pada sebagian orang dan binatang.

b. Toleransi sekunder, ialah toleransi yang diperbolehkan akibat penggunaan obat yang sering diulangi.

c. Toleransi silang, ialah toleransi yang terjadi akibat penggunaan obat-obat yang mempunyai struktur kimia yang serupa, dapat pula terjadi antara zat-zat yang berlainan, misalnya alcohol dan barbital.

4. Takhifilaksis = suatu fenomena berkurangnya kecepatan respon terhadap aksi obat pada pengulangan penggunaan obat dalam dosis yang sama. Respon mula-mula tidak terulang meskipun dengan dosis yang lebih besar.

5. Habituasi = suatu gejala ketergantungan psikhologik terhadap suatu obat ( psychological dependence ). Menurut WHO,

a. Selalu ingin menggunakan obat.

b. Tanpa atau sedikit kecenderungan untuk menaikkan dosis.

c. Timbul beberapa ketergantungan psikhik.

d. Memberi efek yang merugikan pada suatu individu.

Habituasi terjadi melalui beberapa cara, yaitu :

a. Induksi enzim, yaiut obat menstimulasi suatu enzim untuk menguraikan obat tersebut.

b. Reseptor-reseptor sekunder, yang dibentuk khusus oleh obat tertentu, misalnya Morfin.

c. Penghambatan resorpsi pada penggunaan obat per oral.

6. Adiksi = suatu gejala ketergantungan psikhologik dan fisis terhadap obat. Menurut WHO,

a. Ada dorongan untuk selalu menggunakan suatu obat.

b. Ada kecenderungan untuk selalu menaikkan dosis.

c. Timbul ketergantungan psikhik dan biasanya diikuti ketergantungan fisik.

d. Merugikan terhadap individu maupun masyarakat.

7. Resistensi terhadap bakteri.

Pada penggunaan antibiotic untuk penyakit infeksi dapat terjadi obat tidak mampu bekerja lagi untuk membunuh, menghambat perkembangan bakteri tertentu.

EFEK PENGGUNAAN OBAT CAMPURAN

1. Adisi = campuran obat atau obat yang diberikan bersama-sama menimbulkan efek yang merupakan jumlah dari efek masing-masing obat secara terpisah pada pasien.

2. Sinergis = campuran obat atau obat yang diberikan bersama-sama dengan alsi proksimat yang sama, menimbulkan efek, yang lebih besar daripada jumlah efek masing-masing obat secara terpisah pada pasien.

3. Potensiasi = campuran obat atau obat yang diberikan secara bersama-sama dengan aksi-aksi yang tidak sama diberikan pada pasien, menimbulkan efek lebih besar daripada efek masing-masing obat secara terpisah pada pasien.

4. Antagonis = campuran obat atau obat yang diberikan bersama-sama pada pasien yang menimbulkan efek yang berlawanan aksi dari salah satu obat, mengurangi efek dari salah satu obat yang lain.

5. Interaksi obat = fenomena yang terjadi bila efek suatu obat dimodifikasi oleh obat lain yang tidak sama atau sama efeknya dan diberikan sebelum atau bersama-sama. Interaksi obat dapat berlangsung dengan beberapa cara, antara lain :

a. Interaksi kimia, contih : Fenitoin diikat oleh Kalsium, Tetraksiklin oleh logam valensi dua.

b. Kompetisi untuk protein plasma, contoh : Salisilat, Fenilbutazon dan Indometazin mendesak ikatan obat lain pada protein, hingga memperkuat khasiat obat tersebut.

c. Induksi enzim, obat menstimulasi pembentukan enzim hati, lalu menimbulkan obat tersebut cepat dieliminasi dan juga mempecepat perombakan obat lain. Contoh : Hipnotika memperlancar biotransformasi antikoagolasia dan antidepresif trisiklis hingga memperlemah efek obat tersebut.

d. Inhibisi enzim, obat mengganggu fungsi hepar dan enzim-enzimnya. Contoh : alcohol dapat memperkuat obat lain.